Sabtu, 26 Mei 2012

MAKALAH KOMUNIKASI


MAKALAH
KOMUNIKASI
(AZAS-AZAS MANAJEMEN)



OLEH:

ADRI WIJAYA (1101120676)
IBNU MULKAN (1101121103)
NEFI FITRIANA (1101120454)
NICO ANDREAN (1101155465)
RANDY HELNAL DINATA (1101112315)


ILMU PEMERINTAHAN
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2011


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis mengucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat  menyelesaikan makalah ini. Tanpa pertolongan-Nya, mungkin penulis tidak akan sanggup menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Makalah ini di susun  dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah akhirnya makalah ini dapat terselesaikan walaupun masih ada kesalahan.
            Makalah ini memuat tentang “Komunikasi” dan sengaja dipilih karena menarik perhatian penulis untuk dicermati dan perlu mendapat dukungan dari semua pihak yang peduli terhadap dunia pendidikan.
            Penulis  juga mengucapkan terima kasih kepada bapak Kasmirudin selaku dosen pembimbing dan teman-teman yang telah banyak membantu penyusun agar dapat menyelesaikan makalah ini dengan sebaik-baiknya.
            Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kekurangan. Penyusun mohon untuk saran dan kritiknyaagar makalah ini dapat menjadi lebih baik.. Terima kasih.

Pekanbaru, Mei 2012

Penulis


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR 2
DAFTAR ISI 3
BAB I PENDAHULUAN 4
1.1 Latar Belakang 4
1.2 Rumusan Masalah 4
1.3 Tujuan 4
1.4 Manfaat 5
BAB II ISI DAN PEMBAHASAN 6
2.1 Pengertian Komunikasi 6
2.2 Tujuan Komunikasi 7
2.3  Kepentingan Pribadi dan Komunikasi 7
2.4  Partisipasi Bawahan 8
BAB III PENUTUP 12
3.1 Kesimpulan 12
3.2 Saran 12
DAFTAR PUSTAKA 13



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Seperti yang kita ketahui dalam kehidupan sehari-hari kita tidak pernah lepas dari yang namanya komunikasi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Komunikasi secara langsung salah satunya adalah dengan cara bertemu dan bertatap muka secara langsung sedangkan komunikasi secara tidak langsung bisa melalui perantara orang ketiga yang menyampaikan pesan nantinya. Hal ini pasti selalu ada di dalam kehidupan bermasyarakat. Apalagi sifat manusia itu sendiri adalah makhluk social yaitu makhluk yang tidak dapat hidup sendiri melainkan perlunya interaksi dengan manusia lainnya. Salah satu bentuk konkret dari interaksi ini adalah komunikasi tersebut. Namun dalam pembahasan yang ada di dalam makalah ini adalh mengenai komunikasi dalam konteks manajemen dan pemerintahan. Oleh karena itu untuk memenuhi pembelajaran mata kuliah azas-azas manajemen ini, penulis mengambil judul “Komunikasi” di dalam makalah yang penulis kerjakan ini.
1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan latar belakang di atas, penulis mengambil beberapa rumusan masalah diantaranya:
1.      Apakah yang dimaksud dengan komunikasi?
2.      Apa tujuan dari komunikasi?
3.      Bagaimana hubungan antara kepentingan pribadi dan komunikasi?
4.      Sejauh manakah partisipasi bawahan dalam proses pembuatan keputusan?
1.3  Tujuan
Adapun tujuan yang dapat diperoleh dari isi makalah ini antara lain:
1.      Supaya dapat mengetahui pengertian dari komunikasi.
2.      Supaya mengetahui tujuan dari komunikasi.
3.      Supaya dapat memahami hubungan antara kepentingan pribadi dengan komunikasi.
4.      Supaya dapat mengetahui sejauh mana partisipasi bawahan dalamproses pembuatan keputusan.

1.4  Manfaat
Sedangkan manfaat dari dari penulisan makalah ini adalah:
1.      Agar dapat digunakan sebagai bahan bacaan oleh para mahasiswa untuk menambah pengetahuan mereka tentang komunikasi.
2.      Para pembaca dapat mengetahui komunikasi serta kaidah-kaidah pelaksanaannya.


BAB II
ISI DAN PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Komunikasi
Istilah komunikasi berasal dari kata Latin Communicare atau Communis yang berarti sama atau menjadikan milik bersama. Jika kita berkomunikasi dengan orang lain, berarti kita berusaha agar apa yang disampaikan kepada orang lain tersebut menjadi miliknya. Beberapa definisi komunikasi adalah:
1. Komunikasi adalah kegiatan pengoperan lambang yang mengandung arti/makna yang perlu dipahami bersama oleh pihak yang terlibat dalam kegiatan komunikasi (Astrid).
2. Komunikasi adalah kegiatan perilaku atau kegiatan penyampaian pesan atau informasi tentang pikiran atau perasaan (Roben.J.G).
3. Komunikasi adalah sebagai pemindahan informasi dan pengertian dari satu orang ke orang lain(Davis, 1981).
4. Komunikasi adalah berusaha untuk mengadakan persamaan dengan orang lain (Schram,W).
5. Komunikasi adalah penyampaian dan memahami pesan dari satu orang kepada orang lain,komunikasi merupakan proses sosial (Modul PRT, Lembaga Administrasi).
Komunikasi adalah proses pemindahan pengertian dalam bentuk gagasan atau informasi dari seseorang ke orang lain. Perpindahan pengertian tersebut melibatkan lebih dari sekedar kata-kata yang digunakan dalam percakapan, tetapi juga ekspresi wajah, intonasi, tidak putus vokal dan sebagainya.
Komunikasi sebagai suatu proses dengan mana orang-orang bermaksud memberikan pengertian-pengertian melalui pengiringan bermaksud secara simbolis, dapat menghubungkan para anggota berbagai satuan orgainisasi yang berbeda dan bidang yang berbeda pula, sehingga sering disebut rantai pertukaran informasi .

2.2  Tujuan Komunikasi
Hewitt (1981) menjabarkan beberapa tujuan penggunaan proses komunikasi secara spesifik sebagai berikut:
1. Mempelajari atau mengajarkan sesuatu
2. Mempengaruhi perilaku seseorang
3. Mengungkapkan perasaan
4. Menjelaskan perilaku sendiri atau perilaku orang lain
5. Berhubungan dengan orang lain
6. Menyelesaian sebuah masalah
7. Mencapai sebuah tujuan
8. Menurunkan ketegangan dan menyelesaian konflik
9. Menstimulasi minat pada diri sendiri atau orng lain.

2.3  Kepentingan Pribadi dan Komunikasi
Kepentingan pribadi dapat mempengaruhi komunikasi melalui pembentukan kepribadian dapat mempengaruhi melalui pembentukan kelompoknya. Di samping itu komunikasi dapat pula dipengaruhi oleh seseorang dengan jalan mengadakan manipulasi terhadap informasi-informasi yang diterimanya. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut: informasi yang disampaikan secara otomatis sampai pada si penerima sebelum melalui satu atau lebih pejabat.
Di dalam proses pemindahan informasi itu dari atas ke bawah atau sebaliknya, maka orang atau pejabat yang dilalui itu dapat memanipulasi informasi itu untuk kepentingannya. Misalnya jika atasan kepada bawahan siapa seorang pejabat harus member laporan atau mengambil suatu tindakan yang tidak menguntungkan bagi pejabat itu karena informasi yang diterimanya, maka pejabat tadi dapat menahan informasi itu demi kepentingan pribadinya.
Kadang-kadang, dan ini sering terjadi, adalah gejala kebalikan dari yang diterapkan di atas yaitu pihak atasan (pimpinan) sendiri yang menahan atau memainkan informasi yang diperlukan atau harus disampaikan kepada bawahannya. Hal ini bisa terjadi karena hal-hal sebagai berikut:
a.        Pimpinan tidak menyadari bahwa informasi yang ditahannyaitu diperlukan oleh bawahannya. Dalam hal ini pimpinan itu hanya memperhatikan arah komunikasi ke bawah saja, yaitu dalam bentuk-bentuk perintah-perintah, instruksi-instruksi yang dikeluarkannya, dan memperhatikam arah komunikasi lainnya.
b.      Dengan informasi yang hanya dimiliki olehnya itu pimpinan dapat mempergunakan sebagai alat untuk memperkokoh kedudukannya atau wewenangnya terhadap bawahan. Sekalipun hal adanya suatu pimpinan yang goyah terakhir ini kadang-kadang mempunyai fungsi konstruktif.
Sebagai penutup sesuatu komunikasi itu dipengaruhi oleh:
o   Sumbernya, yaitu siapa yang mengeluarkan
o   Saluran komunikasi yang digunakan dan
o   Isi atau bentuk komunikasi itu sendiri yang logis, meyakinkan, dan lain-lain.

2.4 Partisipasi Bawahan

Masalah yang belakangan ini mendapat sorotan adalah beberapa besar partisipasi bawahan di dalam proses pembuatan keputusan oleh manajer. Dalam memecahkan masalah ini kita dapat memanfaatkan konsep “continuum of leadership” dari Robert Tannenbaum dan Werren H. Schmidt dalam bukunya: how to choose a leadership pattern, yang melihat kepemimpinan sebagai suatu “continuum”.
Robert Tannenbaum dan Werren H. Schmidt berpendapat bahwa pemilihan suatu gaya kepemimpinan yang tepat itu tergantung pada tiga unsure atau kekuatan yang ada pada : manajer, bawahan, situasi. Berikut ini akan dijelaskan factor-faktor yang mempengaruhi factor-faktor tersebut.
·        Manajer
a.       Sistem nilai. System nilai yang dimaksud disini adalah pandangan dan sikap manajer terhadap bawahannya. Misalnya apakah manajer menganggap perlu bawahan berpartisipasi dalam pembuatan keputusan yang akan mempengaruhi keputusan mereka. Kadar atau derajat kepercayaan manajer tentang pertanyaan-pertanyaan tersebut akan mempengaruhi letak manajer pada “cobtinuum” tersebut di atas; apakah akan berada pada ujung sebelah kiri atau di sebelah kanan atau berada di antara titik di kedua ujung tersebut. Perilaku kepemimpinan manajer juga dipengaruhi oleh pertimbangan-pertimbangan efisiensi organisasi, pertumbuhan pribadi bawahan dan laba perusahaan.
b.      Kepercayaan pada bawahan. Tingkat kepercayaan para manajer terhadap orang lain pada umumnya sangat berbeda dan pada saat tertentu hal ini  berpengaruh terhadap bawahan mereka masing-masing. Yang menjadi pertimbangan pertama dalam melihat bawahan biasanya adalah pengetahuan dan kemampuan mereka mengenai masalah tertentu. Dalam hal ini, biasanya timbul pertanyaan pada diri manajer itu; siapa yang mampu menangani masalah ini? Seringkali, entah benar atau tidak, lebih percaya pada diri sendiri dari bawahannya. Dengan kata lain seringkali manajer itu tidak mempercayai kemampuan bawahan untuk menangani masalah tertentu.
c.       Kecenderunan kepemimpinan. Ada beberapa manajer yang merasa lebih cocok dan wajar bila berperan sebagai pemimpin yang bersifat member komando. Tetapi ada pula beberapa manajer merasa lebih cocok bekerja dalam suatu team yang selalu mengajak peran serta para bawahannya.
d.      Keinginan adanya kepastian. Suatu keputusan yang bersifat manajerial atau akan mempunyai akibat atau hasil di kemudian hari yang mengandung unsure ketidak pastian. Apabila seseorang manajer melimpahkan wewenang pengendalian oleh manajer yang bersangkutan terhadap akibat keputusan itu. Keinginan adanya kepastian ada kemantapan lingkungan antar aseorang manajer dengan manajer lain sangat berbeda-beda.
·        Bawahan
Secara umum dapat dikatakan bahwa para manajer akan memberikan peran serta lebih besar kepada bawahannya , bila:
a.       Bawahan mempunyai keinginan yang relative tinggi pada kebebasan, tidak banyak ketergantungannya pada atasan.
b.      Bawahan bersedia memikul tanggung jawab atas perbuatan keputusan.
c.       Bawahan tertarik pada suatu masalah dan merasa masalah itu penting untuk dipecahkan.
d.      Bawahan memahami dan mengidentifikasikan dengan tujuan-tujuan organisasi.
e.       Bawahan mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang diperlukan untuk menangani masalah itu.
f.        Bawahan telah terlatih berperan serta dalam pembuatan keputusan.
·        Situasi
a.       Bentuk organisasi. Organisasi mempunyai nilai-nilai dan kebiasaan-kebiasaan yang pasti mampu mempengaruhi perilaku orang-orang yang bekerja di dalamnya. Nilai-nilai dan kebiasaan-kebiasaan maupun ketentuan-ketentuan organisasi itu dikomunikasikan dengan berbagai cara antara lain: melalui deskripsi jabatan, penyampaian kebijaksanaan dan pertanyaan-pertanyaan umum oleh pucuk pimpinan organisasi itu.
b.      Efektifitas kelompok. Sebelum pembuat keputusan dilimpahkan kepada kelompok bawahan, manajer harus mempertimbangkanapakah anggota-anggota kelompok itu dapat bekerja sama secara efektif sebagai satu unit.
c.       Masalahnya itu sendiri. Sifat masalah dapat menentukan beberapa derajat wewenang harus dilimpahkan oleh seorang manajer kepada bawahannya.
d.      Untuk memecahkannya. Tetapi tidak selalu demikian. Kadang-kadang masalah yang sangat rumit perlu satuorag untuk menyelesaikannya.
e.       Desakan waktu. Seringkali karena waktu yang mendesak, seorang manajer membuat keputusan dengan segera. Dalam keadaan demikian dia akan lebih sulit untuk melibatkan orang lain.  

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan dari isi dan pembahasan penulis dapat menarik beberapa kesimpulan, diantaranya adalah:
1.      Komunikasi adalah proses pemindahan pengertian dalam bentuk gagasan atau informasi dari seseorang ke orang lain. Perpindahan pengertian tersebut melibatkan lebih dari sekedar kata-kata yang digunakan dalam percakapan, tetapi juga ekspresi wajah, intonasi, tidak putus vokal dan sebagainya.
2.      Hewitt (1981) menjabarkan beberapa tujuan penggunaan proses komunikasi secara spesifik menjadi tujuh.
3.      Kepentingan pribadi dapat mempengaruhi komunikasi melalui pembentukan kepribadian dapat mempengaruhi melalui pembentukan kelompoknya. Di samping itu komunikasi dapat pula dipengaruhi oleh seseorang dengan jalan mengadakan manipulasi terhadap informasi-informasi yang diterimanya.
4.      Masalah yang belakangan ini mendapat sorotan adalah beberapa besar partisipasi bawahan di dalam proses pembuatan keputusan oleh manajer. Dalam memecahkan masalah ini kita dapat memanfaatkan konsep “continuum of leadership” dari Robert Tannenbaum dan Werren H. Schmidt dalam bukunya: how to choose a leadership pattern, yang melihat kepemimpinan sebagai suatu “continuum”.

3.2 Saran
            Adapun saran yang dapat diberikan kepada pembaca dan penulis mengenai makalah ini adalah:
1.      Diharapkan penulis dapat mengembangkan dan melanjutkan penulisan makalah mengenai komunikasi ini.
2.      Diharapkan hasil penulisan makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan bacaan dan ilmu pengetahuan.
DAFTAR PUSTAKA

Marnis. 2009. Pengantar Manajemen. Pekanbaru: PT. Panca Abdi Nurgama
Hasan, Erlina. 2005. Komunikasi Pemerintahan. Jatinangor: Refika Aditama

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Entri Populer